Assalamualaikum Wr Wb
Bagaimana kabar para pembaca "Kabudayan Jawi"?
Semoga sehat dan baik-baik saja .
Kali ini admin akan memberi info mengenai perpisahan di sekolah admin yaitu "SMP Negeri 1 Baturetno"
Dengan beberapa urutan acara yang pastinya meriah tidak mungkin untuk logam berlaras tidak tampil.
Logam Berlaras?
Baiklah akan saya jelaskan apa itu logam berlaras.
Logam berlaras saya artikan sebagai gamelan karena didominasi oleh alat yang berbahan logam dan semua memiliki laras atau nada-nada.
Dan mereka semua menjadi rangkaian logam berlaras atau bernada.
Para logam berlaras ini kembali mengguncang perpisahan kelas IX Smp Negeri 1 Baturetno.
Dengan sentuhan yang hampir sama pada tahun kemarin. Para niyaga memainkan alat masing-masing. Dengan mengikuti teori dari guru dan praktek secara langsung, akan menghasilkan permainan yang baik juga.
Berikut adalah salah satu gambar perform karawitan Smp Negeri 1 Baturetno.
Dan Alhamdulillah semua kegiatan karawitan berjalan dengan lancar, aman, dan tentram. Walaupun perform kali ini tanpa ditunggui oleh guru pembimbing tetapi tetap dapat berjalan sesuai aturan.
Akhir kata saya tetap berharap agar karawitan Smp Negeri 1 Baturetno tetap berlanjut sampai generasi kapanpun karena sebagai orang jawa seharusnya bangga dan menjaga budaya jawa.
Wassalamualikum Wr Wb
Kabudayan Jawi
Rabu, 09 Mei 2018
Jumat, 01 Desember 2017
Notasi Lengkap Ldr. Ayun - Ayun Pl.6
Ldr.
Ayun – Ayun Pl.6
Bk. 6 6 5
3 2 1 1 2 3 2 1 2 6
2 3 2 1 3 5 3 2
5 3 2 1 3 5 3 2
6 3 5 6 2 1 6
5 3 6 3 2 3 2 1 6
Ciblon;
5 6 - - 2 3
2 1 2 1 - -
3 5 3 2
1 2 - - 2 3
2 1 2 1 - -
3 5 3 2
1 2 - - 2 3
5 6 2 3 2 1
6 5 4 5
6 3 5 6 2 1 6
5 5 3 1 6
1 3 1 6
Gobyok
* 6 2 6 2
6 2 6
2 6
* 1 5 1 1
5 1 5
1 5
* 2 6 2 6
2 6 2
5 3
Cakepan ldr. Ayun - Ayun
ayun ayun gobyok gawe gumun tekun sarto rukun
akeh kang kayungyun dadi srono iku datan jemu
nyawiji ning panemu condong ing kalbu
tulus rumangsang ayun ayun sarwo sarwi samar ngayun
ayun tak kodeng emeng ngayun ayun tundhone nelongso ngayun ayun
bapakne thole sindhu rogo
rogo kang dho tanpo doyo
nalika niro ing dhalu
wong agung mangsah semedhi
sirep kang bolo wanoro
sadoyo wus sami guling
nadyan arisudarsono
wus dangu gen iro guling
jarwo tirto tirto wijiling angkoso
nyenyuwuno mrih kasembadane sedyo
sindhu rogo rogo kang dho tanpo doyo
dipun enget ywo supe bekti mring suksmo
kawi limo putro prio dahywang druno
gones kenes
kenes wicarane
kawi limo putro prio dahywang druno
gones kenes
kenes wicarane
poncosilo poncosilo.
(pause)
***
tansah ngayun ayun
kayungyun
temah nandang wulangun
marmane nyoto mendah boyo tansah besus macak angadi sariro hangadi busono
karono hamung siro pindho mustiko esemu nimas maweh welas asih murih ojo
hanandang kaswonsih moro age prayogane tumuli gambuh rasane kang ono tambuhono
kang ora ono takok eno mring condhong ing kalbu mring ojo rengu mugo mugo adoh
ing panyendu bang bang wetan suruping suryo ing wanci bangun tan kendhat a
ngayun ayun
Senin, 23 Oktober 2017
Makna Lain Cublak-Cublak Suweng
Halo kawan-kawan kembali lagi dengan saya salah satu admin di blog ini yang kemarin menulis masalah tembung garba, nah kali ini saya akan pakai bahasa Indonesia.
Kali ini saya akan membahas masalah sebuah lagu yang mungkin sudah tidak asing di telinga kita, ya seperti di judul saya akan menulis tentang makna lain dari lagu cublak-cublak suweng. Yang biasanya dipakai untuk permainan anak-anak.
"Cublak-cublak suweng, suwenge teng gulenter, mambu ketundhung gudel, pak empo lera-lere, sopo ngguyu ndheliake, sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong"
Seperti itulah sekiranya lirik cublak-cublak suweng lalu apa yang saya maksud dari judul diatas? Mari kita kupas satu persatu.
Cublak Suweng: Tempat suweng
Suweng adalah anting perhiasan wanita jawa. Jadi cublak-cublak suweng, artinya ada tempat harta berharga, yaitu suweng (suwung, Sepi Sejati) atau Harta Sejati.
Suwenge Teng Gulenter: Suweng berserakan. Harta Sejati itu berupa kebahagiaan sejati sebenarnya sudah ada berserakan di sekitar manusia.
Mambu (baunya) Ketundhung (dituju) Gudel (Anak Kerbau). Maknanya, banyak orang berusaha mencari harta sejati itu. Bahkan orang-orang bodoh (diibaratkan gudel) mencari harta itu dengan penuh nafsu ego, korupsi dan keserakahan, tujuanya untuk menemukan kebahagiaan sejati.
Pak empo (bapak ompong) Lera-lere (menengok kanan kiri). Orang-orang bodoh itu mirip orang tua ompong yang sedang kebingungan. Meskipun hartanya melimpah, ternyata itu harta palsu, bukan harta sejati atau kebahagiaan sejati. Mereka kebingungan karena dikuasai oleh hawa nafsu keserakahanya sendiri.
Sopo ngguyu (siapa tertawa) ndhelikake (dia yang menyembunyikan), menggambarkan bahwa barang siapa bijaksana, dialah yang menemukan Tempat Harta Sejati atau kebahagiaan sejati.
Sir (hati nurani) pong dele kopong (kedelai kosong tanpa isi). Artinya di dalam hati nurani yang kosong.
Maknanya bahwa untuk sampai kepada Tempat Harta Sejati (cublak suweng) atau kebahagiaan sejati, orang harus melepaskan diri dari kecintaan terhadap harta duniawi, mengosongkan diri, rendah hati, tidak merendahkan sesama, serta senantiasa memakai rasa dan mengasah tajam Sir-nya hati nuraninya.
Pada dasarnya lagu ini mengajarkan kita untuk tidak melulu menuruti hawa nafsu dalam mencari harta. Dengan tidak dipengaruhi hawa nafsu, hati nurani akan bersih dan tak tersesat.
Ternyata walaupun lagu ini seperti sederhana tetapi ternyata maknanya sangat panjang dan berguna ya teman-teman.
Dikutip dari: Berbagai Sumber.
Kali ini saya akan membahas masalah sebuah lagu yang mungkin sudah tidak asing di telinga kita, ya seperti di judul saya akan menulis tentang makna lain dari lagu cublak-cublak suweng. Yang biasanya dipakai untuk permainan anak-anak.
"Cublak-cublak suweng, suwenge teng gulenter, mambu ketundhung gudel, pak empo lera-lere, sopo ngguyu ndheliake, sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong"
Seperti itulah sekiranya lirik cublak-cublak suweng lalu apa yang saya maksud dari judul diatas? Mari kita kupas satu persatu.
Cublak Suweng: Tempat suweng
Suweng adalah anting perhiasan wanita jawa. Jadi cublak-cublak suweng, artinya ada tempat harta berharga, yaitu suweng (suwung, Sepi Sejati) atau Harta Sejati.
Suwenge Teng Gulenter: Suweng berserakan. Harta Sejati itu berupa kebahagiaan sejati sebenarnya sudah ada berserakan di sekitar manusia.
Mambu (baunya) Ketundhung (dituju) Gudel (Anak Kerbau). Maknanya, banyak orang berusaha mencari harta sejati itu. Bahkan orang-orang bodoh (diibaratkan gudel) mencari harta itu dengan penuh nafsu ego, korupsi dan keserakahan, tujuanya untuk menemukan kebahagiaan sejati.
Pak empo (bapak ompong) Lera-lere (menengok kanan kiri). Orang-orang bodoh itu mirip orang tua ompong yang sedang kebingungan. Meskipun hartanya melimpah, ternyata itu harta palsu, bukan harta sejati atau kebahagiaan sejati. Mereka kebingungan karena dikuasai oleh hawa nafsu keserakahanya sendiri.
Sopo ngguyu (siapa tertawa) ndhelikake (dia yang menyembunyikan), menggambarkan bahwa barang siapa bijaksana, dialah yang menemukan Tempat Harta Sejati atau kebahagiaan sejati.
Sir (hati nurani) pong dele kopong (kedelai kosong tanpa isi). Artinya di dalam hati nurani yang kosong.
Maknanya bahwa untuk sampai kepada Tempat Harta Sejati (cublak suweng) atau kebahagiaan sejati, orang harus melepaskan diri dari kecintaan terhadap harta duniawi, mengosongkan diri, rendah hati, tidak merendahkan sesama, serta senantiasa memakai rasa dan mengasah tajam Sir-nya hati nuraninya.
Pada dasarnya lagu ini mengajarkan kita untuk tidak melulu menuruti hawa nafsu dalam mencari harta. Dengan tidak dipengaruhi hawa nafsu, hati nurani akan bersih dan tak tersesat.
Ternyata walaupun lagu ini seperti sederhana tetapi ternyata maknanya sangat panjang dan berguna ya teman-teman.
Dikutip dari: Berbagai Sumber.
Kamis, 28 September 2017
Tembung Garba
Sugeng enjing, siang, lan ndalu para sederek kulo. Ing tulisan saniki meniko kulo badhe bahas "Tembung Garba".
Nopo Meniko Tembung Garba?
Tembung Garba yaiku tembung loro ingkang digandeng dados setunggal, ananging sarana disudha jumlah wandane.
Tembung Garba meniko kabedakaken dados 3 yaiku:
Tuladha:
Nopo Meniko Tembung Garba?
Tembung Garba yaiku tembung loro ingkang digandeng dados setunggal, ananging sarana disudha jumlah wandane.
Tembung Garba meniko kabedakaken dados 3 yaiku:
- Tembung Garba sutrawan: Tembung Garba ingkang nuwuhake aksar "w"
- jalu+estri : jalwestri
- lumaku+ing: lumakwing
- nuju+ari : nujwari
Tuladha:
- mugi+arsa : mugyarsa
- widi+astuti : widyastuti
- mugi+antuk: mugyantuk
3. Tembung garba wantah: tembung garba kang ora nuwuhake aksara "w" menawi "y"
Tuladha:
- maha+resi : maharsi
- surya+atmaja: suryatmaja
- nara+rendra : narendra
Santen toya kelapa
Waduk gajahmungkur ning Wonogiri
Semanten atur kawula
Wonten keladuk ing atur nyuwun pangarsami
Dikutip saking berbagai sumber
Senin, 25 September 2017
Ciptaan Sang Hyang Guru
Perkenankanlah saya di sini untuk menjabarkan sedikit mengenai gamelan. Saya merupakan anak yang belum lazimnya untuk bekerja. Namun, saya mempunyai sebuah hobby bahkan bakat yang dapat berbuah lembaran uang. Hobby saya adalah bermain musik gamelan, terutama yaitu kendang. Dari kendang jawa sampai jaipong, Alhamdulillah saya sudah dapat mempermainkannya, walaupun belum maksimal. Saya sudah terbiasa untuk tampil di depan masyarakat umum pada pertunjukkan Campursari, Wayang Kulit, dan karawitan. Baiklah sekarang kita menuju ke Apa Itu GAMELAN???
Istilah gamelan merupakan kata benda yang berasal dari
bahasa Jawa. Gamelan dengan suku kata (kata kerja) gamel mengandung
arti memukul atau menabuh. Gamelan dalam karawitan sunda sering disebut dengan
istilah tatabeuhan. Istilah ini digunakan untuk menunjuk seluruh
instrument (waditra) baik alat yang ditiup, digesek, di pukul maupun
digoyangkan.
Menurut mitologi Jawa, gamelan
dicipatakan oleh Sang Hyang Guru, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa dan memiliki istana di gunung
Mahendra di wilayah Medangkamulan (sekarang sekitar wilayah Gunung Lawu), pada tahun Saka. Pertama-tama Sang
Hyang Guru menciptakan satu buah gong untuk memanggil
para dewa, kemudian menciptakan dua buah gong, dan seterusnya menciptakan
sebuah orkestrasi gamelan. Siapa saja yang mengenal sebutan gamelan sudah pasti
ditujukan pada sekelompok alat musik (orkestrasi) tradisional/klasik yang sebagian besar terbuat dari bahan dasar logam, umumnya dibuat
dari perunggu dan besi. Tidak terbantahkan bahwa gamelan
merupakan warisan berharga
budaya
bangsa Indonesia yang menjadi kebanggaan sebagai produk budaya
adiluhung.
Dalam catatan sejarah kebudayaan Indonesia, musik gamelan muncul sejak perkembangan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Gambarantersebut dapat diamati pada
relief Candi Borobudur yang diyakini dibangun sejak abad ke-8. Pada relief
tergambar berbagai alat musik seperti suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi/siter. Meskipun
sedikit ditemukan alat musik yang terbuat dari logam, namun relief-relief
tersebut setidak-tidaknya dapat memberi penegasan tentang sejarah asal mula
gamelan diciptakan.
Proses
penalaan gamelan amat kompleks, memerlukan ketelitian dan ketekunan yang
serius. Ditinjau dari aspek musikologis, secara umum gamelan menggunakan tangga
nada pentatonis pelog dan slendro. Di wilayah Jawa Barat, selain gamelan slendro-pelog terdapat semacam gamelan yang bernama Gamelan Degung yang bertangga
nada mirip pelog (disebut laras degung), dan tangga nada yang mirip diatonis
(disebut larasmadenda) berskala minor yang banyak dipakai di dataran negara-negara Eropa.
Interaksi
musikal yang sarat dengan melodi, irama, dinamika, dan warna suara, telah
menjadikan musik gamelan sebagai produk budaya bangsa Indonesia yang amat menakjubkan. Sehingga
berbagai kajian tentang karakteristik, estetik, dan musikal, telah banyak
dilakukan oleh para etnomusikolog di seluruh dunia. Bahkan para
pakar sosiologi dan antropologi pun sangat menaruh minat, menjadikan budaya gamelan sebagai
subjek atau pun objek penelitian dari latar belakang dan sudut pandang
(paradigma) yang berbeda.
Keberadaan gamelan khususnya tersebar di wilayah
pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Sungguh kita patut memiliki kebanggaan, karena musik gamelan kini sudah menyebar luas ke pelosok dunia. Di kawasan benua Eropa, Amerika,
Afrika, Australia, dan tentunya Asia, musik gamelan banyak diminati sebagi
materi pokok berbagai kegiatan kesenian bersifat akademik maupun perfoming art
di lembaga-lembaga pemerintahan, lembaga-lembaga pendidikan tinggi/universitas,
komunitas seni atau individu-individu. Dalam perkembangan selanjutnya, yang
luar biasa kini musik gamelan telah diakui oleh sebagian besar pakar etnomusikologi dunia sebagai world
music atau musik-nya dunia.
Festival-festival gamelan pun kini telah menjadi sebuah rutinitas yang kerap
digelar di seantero jagat. Bahkan Festival Gamelan Internasional yang dianggap
cukup sukses dan fenomenal untuk yang pertama kalinya diselenggarakan di luar
negeri, yaitu di Vancouver-Canada, pada tahun 1986.
1. Pengelompokan Instrumen Dalam Karawitan Sunda
Instrumen/waditra-waditra
pada karawitan Sunda dikelompokan berdasarkan: sifat-sifat bahan; sumber bahan;
cara membunyikan; bentuk bahan yang berbunyi.
a. Sifat-sifat
bahan
Sifat-sifat
atau keadaan bahan menentukan kualitas alat yang dibuat, sebab sifat-sifat
inilah yang membentuk warna (timbre) dan kekuatan (frekuensi) bunyi.
Berdasarkan sifat-sifat bahan inilah kita melaras (mengatur tinggi-rendah nada)
suatu alat bunyi. Adapun sifat-sifat itu adalah:
1. Sifat basah kering, hampa-padat, ringan-berat akan menentukan
warna bunyi.
2. Sifat
tipis-tebal, panjang-pendek, datar-lengkung, tegang-kendur, dsb, menentukan
frekuensi bunyi (tinggi-rendahnya nada).
Contoh: suatu
alat yang mempunyai sifat pendek-tebal dan padat, maka suara yang dihasilkan
akan nyaring dan bernada tinggi.
b. Sumber bahan
Segala macam
bahan dapat dipakai untuk membuat alat bunyi-bunyian, dengan syarat
dapat menimbulkan bunyi yang bergantung kepada kondisi dari bahan itu sendiri.
1) Instrumen-instrumen
dari bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, baik daun, pelepah, serat maupun
batang
kayu. Misalnya yang dibuat dari:
- Bambu:
angklung, calung, suling, karinding, dsb.
- Kayu:
gambang, kul, kolotok, dsb.
2) Instrumen
yang berasal dari binatang, baik dari bulunya, kulit, selaput, usus tulang, dan tanduk. Misalnya yang
dibuat:
- Kulit:
dogdog, kendang, tanjidor, dsb.
- Selaput:
rebab.
3) Instrumen
yang berasal dari logam, baik logam murni, logam cor, logam campuran, maupun logam tempa atau
logam kepingan (lembaran). Salah satu logam campuran yang paling banyak dipakai
sebagai bahan dalam
pembuatan gamelan adalah perunggu. Perunggu merupakan logam campuran antara
tembaga dengan timah dalam
perbandingan 3:10. Perunggu semacam ini disebut gasa. Istilah
ini digunakan sebagai tanda bahwa perbandingan
campuran tiga berbanding dasa (sepuluh). Contoh
instrument dari logam: bonang, saron, demung, selentem, gong, kenong.
c. Cara membunyikan
Cara membunyikan instrumen-instrumen dapat dibedakan menjadi beberapa teknik :
1) Dipukul/ditepuk (percusion instrument): gambang, bonang,
saron, demung, peking, selentem, gender, selento,
kenong, gong,
kendang, dogdog, bajidor.
2) Dipetik
(string instrument) : kecapi, celempung, siter.
3) Digesek
(string instrument) : rebab, tarawangsa.
4) Ditiup
(aerophone instrument): suling, terompet, taleot.
d. Bentuk bahan yang berbunyi
Berdasarkan
kepada bentuk bahan yang berbunyi, dapat dikelompokkan menjadi:
1) Alat
berdawai (chordophone): kecapi, celempung, tarawangsa.
2) Alat
berwangkis (membranophone): rebab, kendang, dogdog, dsb.
3) Alat
berarus udara (aerophone): suling, terompet.
4) Alat
berwilahan: gambang, saron, peking, demung, selentem, bonang.
5) Alat
berpenclon: bonang, kenong, kethuk, kempul, goong.
2. Ragam Gamelan Sunda
a. Macam-macam gamelan
Di
daerah Jawa Barat ada 4 macam gamelan yang biasa dipakai dalam karawitan di
mana gamelan yang satu dengan gamelan yang lainnya berbeda laras dan susunan
waditranya. Keempat gamelan tersebut adalah : Gamelan Salendro, Gamelan Pelog,
Gamelan Degung, dan Gamelan Renteng / Gong Renteng. Sebelum kita menabuh atau
mempelajari cara menabuh, haruslah terlebih dahulu mengetahui laras atau jumlah
waditra-waditra yang ada pada perangkat gamelan, sehingga kita dapat
menyusunnya dengan tepat.
Gamelan Degung,
salah satu jenis gamelan Sunda
Perlu di ketahui bahwa tidak semua gamelan dapat mengingi suatu lagu yang
berbeda larasnya, atau mungkin pula ada laras yang bisa diiringi dengan gamelan
yang tidak sama larasnya. Misalnya, gamelan selendro bisa juga dipakai untuk mengiringi
lagu yang berlaras madenda dan degung. Hal ini memungkinkan karena adanya
nada-nada yang tumbuk. Namun perlu diingat pula bahwa gamelan salendro tidak
bisa dipakai untuk mengiringi lagu-lagu yang berlaras pelog, begitu pula
sebaliknya gamelan pelog tidak bisa mengiringi lagu-lagu yang berlaras
salendro.
Gamelan Pelog-slendro
b. Nama-nama waditra pada gamelan Sunda
Gamelan
yang ada dan biasa dipakai di Jawa Barat, susunan dan jumlahnya tidaklah sama.
Ada gamelan yang lengkap waditranya, ada pula yang minim. Dalam
gamelan pelog atau salendro untuk membedakan hal tersebut maka dipakai istilah Gamelan
Ageung untuk gamelan yang lengkap, danGamelan Alit untuk
gamelan yang tidak lengkap. Selain susunan dan jumlahnya yang menentukan
sebutan gamelan, juga dapat diamatai dari ukuran dan bentuk gamelan,
misalnya ukuran kenong, bonang, saron, dan gong yang mempunyai garis tengah 90
cm, bisa dikelompokan pada waditra GamelanAgeng.
Adapaun
nama-nama waditra pada gamelan Pelog/Salendro yang lengkap adalah :
- Dua buah saron (saron
1dan 2) - Demung
- Peking
- Bonang
- Rincik
- Gambang
- Selentem
|
- Kecrek/Cecempres,
- Toroktok/Keprak - Ketuk/kompyang
- Kulanter
- Kendang
- Bedug
- Ketuk/Kempyang
- Kemanak
|
- Rebab
- Gender
- Suling.
- Celempung/siter
- Kempul Kenong
- Beri
- Kenong
- Gong
|
Di dalam praktiknya sekarang ini jarang mempergunakan gamelan
dengan waditra selengkap diatas. Dan perlu diketahui bahwa dalam
praktek menabuh gamelan Sunda, waditra gender, kemanak, celempung, biasanya
tidak dipergunakan, baik pada gamelan pelog maupun gamelan salendro. Pada
umumnya yang biasa dipakai pada pergelaran, baik pergelaran wayang
golek, kliningan, pergelaran tari, cukup dengan gamelan
yang terdiri dari waditra-waditra:
- Dua Saron,
- Demung
- Peking
- Bonang
- Rincik
|
- Gambang
- Rebab
- Seperangkat Kendang
- Kempul dan Gong
|
Instrument Rebab dalam gamelan pelog-slendro
c . Fungsi masing-masing instrumen/waditra
Fungsi masing-masing waditra tergantung pada jenis gamelan yang digunakan
serta lagu yang dibawakan. Tugas-tugas waditra sedemikian rupa
jalinanya, sehingga keharmonisan akan terasa apabila kita mengamati secara
seksama. Jalinan komposisi tercipta secara teratur menurut kerangka
dan bentuk gending yang dimainkan. Secara teknik mereka hanya bertemu dengan
nada yang sama (tumbuk) di wilayah kenongan dan goongan.Sedangkan
sebelumnya mereka berjalan teratur secara menyendiri menurut fungsi dan
tugasnya masing-masing.
Pada prinsipnya fungsi dan tugas masing-masing waditra dalam Gamelan
Pelog-salendro, dapat diuraikan sebagai berikut :
1 ) Balung gending (cantus firmus) atau
Arkuh Lagu, merupakan rangka dasar dari gending, diisi oleh waditra
Selentem;
2 ) Anggeran wilentan (inter punctie) di
isi oleh waditra : kempul, kenong, goong ;
3 ) Melodi lagu, biasanya
dibawakan oleh waditra Rebab atau Gambang;
4 ) Pengatur Irama, biasa dibawakan oleh
waditra oleh kendang
5 ) Lilitan melodi, diisi
oleh Rincik
6 ) Lilitan balunganing gending, diisi
oleh waditra : Saron, Demung, Peking Bonang.
3 . Ciri-ciri Umum Gending Gamelan
Sunda
Ciri-ciri gending /lagu
pada gamelan pelog-salendro adalah :
a . Memuai
Gending-gending
tradisi sebenarnya sederhana. Tetapi dari pola-pola yang sederhana itu, dapat
dikembangkan secara teknis dalam praktek penyajiannya. Sebagai contoh sebuah
kenongan tabuh dalam satu wilet, bisa dikembangkan menjadi dua wilet atau
diciutkan menjadi setengah wilet (kering/gurudugan) dengan
kenongan dan goongan masih tetap jatuh pada nada-nada yang semula. Dengan
demikian irama bisa berubah menurut kehendak dari penabuhnya. Hal
ini akan terlihat pada posisi tabuh yang dimainkan dalam gamelan
pelog/salendro atau dalam ensambel non gamelan/waditra lain.
perbedaan-perbedaan kadangkala hanya terletak pada nama saja, atau patet yang
dipergunakan. Sifat memuai dalam gending sunda, dapat menjangkau beberapa hal,
antara lain : pengembangan wiletan, pengembangan papatet, pengembangan laras
dan lagu, dan Pengembangan dinamika.
b. Kedudukan
patet lagu sangat kuat
Dilihat
dari tekhnis memainkan gending gamelan pelog-selendro, kedudukan patet sangat
kuat/kokoh dalam ketetapan nada-nada yang sudah ditentukan. Meskipun
terjadi perpindahan laras (biasanya dalam melodi rebab), sama
sekali tidak menggoyahkan papatet yang digunakan dalam gending yang sedang
dimainkan. Begitu pula jika terjadi improvisasi-mprovisasi
permainan waditra, gending tetap teguh atau konsisten pada kedudukannya
terutama saat jatuh pada nada-nada kenongan dan goongan.
Kuatnya kedudukan patet dalam gending Sunda, dapat terlihat dalam
dari segi: Kedudukan nama lagu dan posisinya; Sifat polyphonis
yang jatuh pada arah nada yang sama dalam kenongan dan goongan; Kedududkan tiap wiletan dalam jalanya lagu gending.
c. Tugas waditra bersifat fleksible
Kelengkapan jumlah waditra yang digunakan dalam gending Sunda tidak terlalu
ketat, kecuali waditra-waditra yang menjadi pokok misalnya waditra
kendang, rebab, gong. Ketidak ketatan itu membawa pengaruh terhadap
waditra-waditra lain sehingga pergantian tugas antar waditra sering terjadi, dengan
tidak mempengaruhi tugas pokok waditra yang bersangkutan. Sebagai
contoh: secara teknis waditra bonang barung bisa dipakai untuk pola tabuhan
rincik (bonang penerus), atau waditra saron 1 merangkap tabuhan saron 2. Hal
ini dapat dilakukan ketika terjadi kekosongan dikarenakan ada
waditra yang tidak ditabuh.
Oleh karena itu mungkin di daerah Sunda, tidak menjadi masalah apakah
gamelan itu lengkap atau tidak. Suatu contoh misalnya dalam suatu pergelaran
tari, pengiringanya cukup hanya dengan dua buah saron, bonang, rebab, kendang
dan gong saja. Sifat fleksibel waditra pada gamelan Sunda sebenarnya
tidak terlepas dari sifat-sifat alat yang lebih individu sehingga sebuah
gending Sunda dapat dimainkan oleh hanya beberapa pengrawit saja.
d. Fungsi kendang dan rebab sangat menonjol
Kendang dan rebab merupakan alat individu yang mempunyai variasi tabuh yang
banyak sekali. Kemampuan teknis memainkan kendang dan rebab seringkali
dianalogikan dengan ukuran keahlian atau ketrampilan tingkat tinggi seorang nayaga (pengrawit).
Sifat dari kedua waditra ini dalam teknis membawakan gending antara lain
menjadi pembingbing atau sebagai pamurba irama terhadap waditra-waditra lain;
memiliki karakteristik atau warna suara yang berbeda dengan waditra lain
terutama waditra-waditra pukul;
Selain vokal, waditra kendang sangat dominan dalam penyajian
gending-gending tari dan wayang untuk menonjolkan karakteristik gerak tarian.
Demikian berfungsinya permainan tepukan kendang dalam tarian, sampai-sampai
kendang itu menjadi alat yang tidak dapat dihilangkan dalam teknis pergelarannya.
Sedangkan waditra rebab banyak dijadikan dasar-dasar lagu dan dijadikan pula
patokan dalam tarian yang dibawakan. Pada tarilalamba misalnya,
akan terasa hambar bila waditra rebab ini tidak ada.
e. Memiliki
gaya, teknik, dan nilai-nilai tersendiri dalam motif tabuh
Gaya (lagam) permainan waditra gamelan dalam suatu komposisi
masing-masing mempunyai motif-motif tabuh yang berlainan. Dalam gamelan dikenal
bermacam–macam gaya atau teknik tabuh waditra, yaitu: dicaruk,
dikemprang, dipancer, digumek, dicacag, dan sebagainya. Lagam carukan
biasanya pada permainan saron, demung, bonang, gambang. Walaupun ada
persamaan-persamaan motif di dalamnya, namun di dalam teknik menabuh berlainan.
Demikian sedikit penjabaran tentang gamelan yang bisa saya ceritakan. Ini hanya sebatas kemampuan saya mengenai gamelan. Saya harapkan untuk semua masyarakat terutama pemuda di Indonesia, khususnya di Jawa ini. Ayo kita lestarikan kesenian budaya Gamelan ini dengan hati yang riang gembira. Seni itu indah, seni itu menyenangkan, seni itu mahal.
Saya Rizqan Rusnamba Prandika siswa SMP Negeri 1 Baturetno.
Ldr. Pariwisata Sl.Myr
Anjajah
desa milang kori,
Kala
mangsane pariwisata,
Wruh endahe
alam nuswantara,
Keh kang adi
luhung alas lan gunung-gunung.
Nadyan bangsa
manca negara,
Padha gumun
pada ngungun,
Sesawangan
anglam lami tan mboseni,
Kodrating
kawasa kaya tinata janma.
Sendhang
megung trusing kedhung,
Sumber luber
kebak warih,
Suwakan
banyu blumbangan,
Kemricik
banyune belik,
Ngisor tlaga
sumber toya,
Ketiga
ngerak trus mili.
Senadyan
pucuking gunung,
Akeh
sawangan kang asri,
Wisma-wisma
pasanggrahan,
Kanggo
ngleremake dhiri,
Kebegan
pariwisata,
Kembang –
kembang angrenggani,
Taman-taman
kembang gunung,
Dalane gasik
waradin,
Tanem tuwuh
angrembaka,
Bangkit
pangolahing siti,
Sagunging
pariwisata,
Sengseme
tanpa upami.
( Ki Narto Sabdo, 1980 )
Agar lebih memahami laras dan titi larasnya, silahkan
By : Rizqan Rusnamba Prandika, siswa SMP Negeri 1 Baturetno kelas 8 A
Langganan:
Postingan (Atom)




