Perkenankanlah saya di sini untuk menjabarkan sedikit mengenai gamelan. Saya merupakan anak yang belum lazimnya untuk bekerja. Namun, saya mempunyai sebuah hobby bahkan bakat yang dapat berbuah lembaran uang. Hobby saya adalah bermain musik gamelan, terutama yaitu kendang. Dari kendang jawa sampai jaipong, Alhamdulillah saya sudah dapat mempermainkannya, walaupun belum maksimal. Saya sudah terbiasa untuk tampil di depan masyarakat umum pada pertunjukkan Campursari, Wayang Kulit, dan karawitan. Baiklah sekarang kita menuju ke Apa Itu GAMELAN???
Istilah gamelan merupakan kata benda yang berasal dari
bahasa Jawa. Gamelan dengan suku kata (kata kerja) gamel mengandung
arti memukul atau menabuh. Gamelan dalam karawitan sunda sering disebut dengan
istilah tatabeuhan. Istilah ini digunakan untuk menunjuk seluruh
instrument (waditra) baik alat yang ditiup, digesek, di pukul maupun
digoyangkan.

Menurut mitologi Jawa, gamelan
dicipatakan oleh Sang Hyang Guru, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa dan memiliki istana di gunung
Mahendra di wilayah Medangkamulan (sekarang sekitar wilayah Gunung Lawu), pada tahun Saka. Pertama-tama Sang
Hyang Guru menciptakan satu buah gong untuk memanggil
para dewa, kemudian menciptakan dua buah gong, dan seterusnya menciptakan
sebuah orkestrasi gamelan. Siapa saja yang mengenal sebutan gamelan sudah pasti
ditujukan pada sekelompok alat musik (orkestrasi) tradisional/klasik yang sebagian besar terbuat dari bahan dasar logam, umumnya dibuat
dari perunggu dan besi. Tidak terbantahkan bahwa gamelan
merupakan warisan berharga
budaya
bangsa Indonesia yang menjadi kebanggaan sebagai produk budaya
adiluhung.
Dalam catatan sejarah kebudayaan Indonesia, musik gamelan muncul sejak perkembangan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Gambarantersebut dapat diamati pada
relief Candi Borobudur yang diyakini dibangun sejak abad ke-8. Pada relief
tergambar berbagai alat musik seperti suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi/siter. Meskipun
sedikit ditemukan alat musik yang terbuat dari logam, namun relief-relief
tersebut setidak-tidaknya dapat memberi penegasan tentang sejarah asal mula
gamelan diciptakan.
Proses
penalaan gamelan amat kompleks, memerlukan ketelitian dan ketekunan yang
serius. Ditinjau dari aspek musikologis, secara umum gamelan menggunakan tangga
nada pentatonis pelog dan slendro. Di wilayah Jawa Barat, selain gamelan slendro-pelog terdapat semacam gamelan yang bernama Gamelan Degung yang bertangga
nada mirip pelog (disebut laras degung), dan tangga nada yang mirip diatonis
(disebut larasmadenda) berskala minor yang banyak dipakai di dataran negara-negara Eropa.
Interaksi
musikal yang sarat dengan melodi, irama, dinamika, dan warna suara, telah
menjadikan musik gamelan sebagai produk budaya bangsa Indonesia yang amat menakjubkan. Sehingga
berbagai kajian tentang karakteristik, estetik, dan musikal, telah banyak
dilakukan oleh para etnomusikolog di seluruh dunia. Bahkan para
pakar sosiologi dan antropologi pun sangat menaruh minat, menjadikan budaya gamelan sebagai
subjek atau pun objek penelitian dari latar belakang dan sudut pandang
(paradigma) yang berbeda.
Keberadaan gamelan khususnya tersebar di wilayah
pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Sungguh kita patut memiliki kebanggaan, karena musik gamelan kini sudah menyebar luas ke pelosok dunia. Di kawasan benua Eropa, Amerika,
Afrika, Australia, dan tentunya Asia, musik gamelan banyak diminati sebagi
materi pokok berbagai kegiatan kesenian bersifat akademik maupun perfoming art
di lembaga-lembaga pemerintahan, lembaga-lembaga pendidikan tinggi/universitas,
komunitas seni atau individu-individu. Dalam perkembangan selanjutnya, yang
luar biasa kini musik gamelan telah diakui oleh sebagian besar pakar etnomusikologi dunia sebagai world
music atau musik-nya dunia.
Festival-festival gamelan pun kini telah menjadi sebuah rutinitas yang kerap
digelar di seantero jagat. Bahkan Festival Gamelan Internasional yang dianggap
cukup sukses dan fenomenal untuk yang pertama kalinya diselenggarakan di luar
negeri, yaitu di Vancouver-Canada, pada tahun 1986.
1. Pengelompokan Instrumen Dalam Karawitan Sunda
Instrumen/waditra-waditra
pada karawitan Sunda dikelompokan berdasarkan: sifat-sifat bahan; sumber bahan;
cara membunyikan; bentuk bahan yang berbunyi.
a. Sifat-sifat
bahan
Sifat-sifat
atau keadaan bahan menentukan kualitas alat yang dibuat, sebab sifat-sifat
inilah yang membentuk warna (timbre) dan kekuatan (frekuensi) bunyi.
Berdasarkan sifat-sifat bahan inilah kita melaras (mengatur tinggi-rendah nada)
suatu alat bunyi. Adapun sifat-sifat itu adalah:
1. Sifat basah kering, hampa-padat, ringan-berat akan menentukan
warna bunyi.
2. Sifat
tipis-tebal, panjang-pendek, datar-lengkung, tegang-kendur, dsb, menentukan
frekuensi bunyi (tinggi-rendahnya nada).
Contoh: suatu
alat yang mempunyai sifat pendek-tebal dan padat, maka suara yang dihasilkan
akan nyaring dan bernada tinggi.
b. Sumber bahan
Segala macam
bahan dapat dipakai untuk membuat alat bunyi-bunyian, dengan syarat
dapat menimbulkan bunyi yang bergantung kepada kondisi dari bahan itu sendiri.
1) Instrumen-instrumen
dari bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, baik daun, pelepah, serat maupun
batang
kayu. Misalnya yang dibuat dari:
- Bambu:
angklung, calung, suling, karinding, dsb.
- Kayu:
gambang, kul, kolotok, dsb.
2) Instrumen
yang berasal dari binatang, baik dari bulunya, kulit, selaput, usus tulang, dan tanduk. Misalnya yang
dibuat:
- Kulit:
dogdog, kendang, tanjidor, dsb.
- Selaput:
rebab.
3) Instrumen
yang berasal dari logam, baik logam murni, logam cor, logam campuran, maupun logam tempa atau
logam kepingan (lembaran). Salah satu logam campuran yang paling banyak dipakai
sebagai bahan dalam
pembuatan gamelan adalah perunggu. Perunggu merupakan logam campuran antara
tembaga dengan timah dalam
perbandingan 3:10. Perunggu semacam ini disebut gasa. Istilah
ini digunakan sebagai tanda bahwa perbandingan
campuran tiga berbanding dasa (sepuluh). Contoh
instrument dari logam: bonang, saron, demung, selentem, gong, kenong.
c. Cara membunyikan
Cara membunyikan instrumen-instrumen dapat dibedakan menjadi beberapa teknik :
1) Dipukul/ditepuk (percusion instrument): gambang, bonang,
saron, demung, peking, selentem, gender, selento,
kenong, gong,
kendang, dogdog, bajidor.
2) Dipetik
(string instrument) : kecapi, celempung, siter.
3) Digesek
(string instrument) : rebab, tarawangsa.
4) Ditiup
(aerophone instrument): suling, terompet, taleot.
d. Bentuk bahan yang berbunyi
Berdasarkan
kepada bentuk bahan yang berbunyi, dapat dikelompokkan menjadi:
1) Alat
berdawai (chordophone): kecapi, celempung, tarawangsa.
2) Alat
berwangkis (membranophone): rebab, kendang, dogdog, dsb.
3) Alat
berarus udara (aerophone): suling, terompet.
4) Alat
berwilahan: gambang, saron, peking, demung, selentem, bonang.
5) Alat
berpenclon: bonang, kenong, kethuk, kempul, goong.
2. Ragam Gamelan Sunda
a. Macam-macam gamelan
Di
daerah Jawa Barat ada 4 macam gamelan yang biasa dipakai dalam karawitan di
mana gamelan yang satu dengan gamelan yang lainnya berbeda laras dan susunan
waditranya. Keempat gamelan tersebut adalah : Gamelan Salendro, Gamelan Pelog,
Gamelan Degung, dan Gamelan Renteng / Gong Renteng. Sebelum kita menabuh atau
mempelajari cara menabuh, haruslah terlebih dahulu mengetahui laras atau jumlah
waditra-waditra yang ada pada perangkat gamelan, sehingga kita dapat
menyusunnya dengan tepat.
Gamelan Degung,
salah satu jenis gamelan Sunda
Perlu di ketahui bahwa tidak semua gamelan dapat mengingi suatu lagu yang
berbeda larasnya, atau mungkin pula ada laras yang bisa diiringi dengan gamelan
yang tidak sama larasnya. Misalnya, gamelan selendro bisa juga dipakai untuk mengiringi
lagu yang berlaras madenda dan degung. Hal ini memungkinkan karena adanya
nada-nada yang tumbuk. Namun perlu diingat pula bahwa gamelan salendro tidak
bisa dipakai untuk mengiringi lagu-lagu yang berlaras pelog, begitu pula
sebaliknya gamelan pelog tidak bisa mengiringi lagu-lagu yang berlaras
salendro.
Gamelan Pelog-slendro
b. Nama-nama waditra pada gamelan Sunda
Gamelan
yang ada dan biasa dipakai di Jawa Barat, susunan dan jumlahnya tidaklah sama.
Ada gamelan yang lengkap waditranya, ada pula yang minim. Dalam
gamelan pelog atau salendro untuk membedakan hal tersebut maka dipakai istilah Gamelan
Ageung untuk gamelan yang lengkap, danGamelan Alit untuk
gamelan yang tidak lengkap. Selain susunan dan jumlahnya yang menentukan
sebutan gamelan, juga dapat diamatai dari ukuran dan bentuk gamelan,
misalnya ukuran kenong, bonang, saron, dan gong yang mempunyai garis tengah 90
cm, bisa dikelompokan pada waditra GamelanAgeng.
Adapaun
nama-nama waditra pada gamelan Pelog/Salendro yang lengkap adalah :
- Dua buah saron (saron
1dan 2)
- Demung
- Peking
- Bonang
- Rincik
- Gambang
- Selentem
|
- Kecrek/Cecempres,
-
Toroktok/Keprak
-
Ketuk/kompyang
- Kulanter
- Kendang
- Bedug
- Ketuk/Kempyang
- Kemanak
|
- Rebab
- Gender
- Suling.
- Celempung/siter
- Kempul Kenong
- Beri
- Kenong
- Gong
|
Di dalam praktiknya sekarang ini jarang mempergunakan gamelan
dengan waditra selengkap diatas. Dan perlu diketahui bahwa dalam
praktek menabuh gamelan Sunda, waditra gender, kemanak, celempung, biasanya
tidak dipergunakan, baik pada gamelan pelog maupun gamelan salendro. Pada
umumnya yang biasa dipakai pada pergelaran, baik pergelaran wayang
golek, kliningan, pergelaran tari, cukup dengan gamelan
yang terdiri dari waditra-waditra:
- Dua Saron,
- Demung
- Peking
- Bonang
- Rincik
|
- Gambang
- Rebab
- Seperangkat Kendang
- Kempul dan Gong
|
Instrument Rebab dalam gamelan pelog-slendro
c . Fungsi masing-masing instrumen/waditra
Fungsi masing-masing waditra tergantung pada jenis gamelan yang digunakan
serta lagu yang dibawakan. Tugas-tugas waditra sedemikian rupa
jalinanya, sehingga keharmonisan akan terasa apabila kita mengamati secara
seksama. Jalinan komposisi tercipta secara teratur menurut kerangka
dan bentuk gending yang dimainkan. Secara teknik mereka hanya bertemu dengan
nada yang sama (tumbuk) di wilayah kenongan dan goongan.Sedangkan
sebelumnya mereka berjalan teratur secara menyendiri menurut fungsi dan
tugasnya masing-masing.
Pada prinsipnya fungsi dan tugas masing-masing waditra dalam Gamelan
Pelog-salendro, dapat diuraikan sebagai berikut :
1 ) Balung gending (cantus firmus) atau
Arkuh Lagu, merupakan rangka dasar dari gending, diisi oleh waditra
Selentem;
2 ) Anggeran wilentan (inter punctie) di
isi oleh waditra : kempul, kenong, goong ;
3 ) Melodi lagu, biasanya
dibawakan oleh waditra Rebab atau Gambang;
4 ) Pengatur Irama, biasa dibawakan oleh
waditra oleh kendang
5 ) Lilitan melodi, diisi
oleh Rincik
6 ) Lilitan balunganing gending, diisi
oleh waditra : Saron, Demung, Peking Bonang.
3 . Ciri-ciri Umum Gending Gamelan
Sunda
Ciri-ciri gending /lagu
pada gamelan pelog-salendro adalah :
a . Memuai
Gending-gending
tradisi sebenarnya sederhana. Tetapi dari pola-pola yang sederhana itu, dapat
dikembangkan secara teknis dalam praktek penyajiannya. Sebagai contoh sebuah
kenongan tabuh dalam satu wilet, bisa dikembangkan menjadi dua wilet atau
diciutkan menjadi setengah wilet (kering/gurudugan) dengan
kenongan dan goongan masih tetap jatuh pada nada-nada yang semula. Dengan
demikian irama bisa berubah menurut kehendak dari penabuhnya. Hal
ini akan terlihat pada posisi tabuh yang dimainkan dalam gamelan
pelog/salendro atau dalam ensambel non gamelan/waditra lain.
perbedaan-perbedaan kadangkala hanya terletak pada nama saja, atau patet yang
dipergunakan. Sifat memuai dalam gending sunda, dapat menjangkau beberapa hal,
antara lain : pengembangan wiletan, pengembangan papatet, pengembangan laras
dan lagu, dan Pengembangan dinamika.
b. Kedudukan
patet lagu sangat kuat
Dilihat
dari tekhnis memainkan gending gamelan pelog-selendro, kedudukan patet sangat
kuat/kokoh dalam ketetapan nada-nada yang sudah ditentukan. Meskipun
terjadi perpindahan laras (biasanya dalam melodi rebab), sama
sekali tidak menggoyahkan papatet yang digunakan dalam gending yang sedang
dimainkan. Begitu pula jika terjadi improvisasi-mprovisasi
permainan waditra, gending tetap teguh atau konsisten pada kedudukannya
terutama saat jatuh pada nada-nada kenongan dan goongan.
Kuatnya kedudukan patet dalam gending Sunda, dapat terlihat dalam
dari segi: Kedudukan nama lagu dan posisinya; Sifat polyphonis
yang jatuh pada arah nada yang sama dalam kenongan dan goongan; Kedududkan tiap wiletan dalam jalanya lagu gending.
c. Tugas waditra bersifat fleksible
Kelengkapan jumlah waditra yang digunakan dalam gending Sunda tidak terlalu
ketat, kecuali waditra-waditra yang menjadi pokok misalnya waditra
kendang, rebab, gong. Ketidak ketatan itu membawa pengaruh terhadap
waditra-waditra lain sehingga pergantian tugas antar waditra sering terjadi, dengan
tidak mempengaruhi tugas pokok waditra yang bersangkutan. Sebagai
contoh: secara teknis waditra bonang barung bisa dipakai untuk pola tabuhan
rincik (bonang penerus), atau waditra saron 1 merangkap tabuhan saron 2. Hal
ini dapat dilakukan ketika terjadi kekosongan dikarenakan ada
waditra yang tidak ditabuh.
Oleh karena itu mungkin di daerah Sunda, tidak menjadi masalah apakah
gamelan itu lengkap atau tidak. Suatu contoh misalnya dalam suatu pergelaran
tari, pengiringanya cukup hanya dengan dua buah saron, bonang, rebab, kendang
dan gong saja. Sifat fleksibel waditra pada gamelan Sunda sebenarnya
tidak terlepas dari sifat-sifat alat yang lebih individu sehingga sebuah
gending Sunda dapat dimainkan oleh hanya beberapa pengrawit saja.
d. Fungsi kendang dan rebab sangat menonjol
Kendang dan rebab merupakan alat individu yang mempunyai variasi tabuh yang
banyak sekali. Kemampuan teknis memainkan kendang dan rebab seringkali
dianalogikan dengan ukuran keahlian atau ketrampilan tingkat tinggi seorang nayaga (pengrawit).
Sifat dari kedua waditra ini dalam teknis membawakan gending antara lain
menjadi pembingbing atau sebagai pamurba irama terhadap waditra-waditra lain;
memiliki karakteristik atau warna suara yang berbeda dengan waditra lain
terutama waditra-waditra pukul;
Selain vokal, waditra kendang sangat dominan dalam penyajian
gending-gending tari dan wayang untuk menonjolkan karakteristik gerak tarian.
Demikian berfungsinya permainan tepukan kendang dalam tarian, sampai-sampai
kendang itu menjadi alat yang tidak dapat dihilangkan dalam teknis pergelarannya.
Sedangkan waditra rebab banyak dijadikan dasar-dasar lagu dan dijadikan pula
patokan dalam tarian yang dibawakan. Pada tarilalamba misalnya,
akan terasa hambar bila waditra rebab ini tidak ada.
e. Memiliki
gaya, teknik, dan nilai-nilai tersendiri dalam motif tabuh
Gaya (lagam) permainan waditra gamelan dalam suatu komposisi
masing-masing mempunyai motif-motif tabuh yang berlainan. Dalam gamelan dikenal
bermacam–macam gaya atau teknik tabuh waditra, yaitu: dicaruk,
dikemprang, dipancer, digumek, dicacag, dan sebagainya. Lagam carukan
biasanya pada permainan saron, demung, bonang, gambang. Walaupun ada
persamaan-persamaan motif di dalamnya, namun di dalam teknik menabuh berlainan.
Demikian sedikit penjabaran tentang gamelan yang bisa saya ceritakan. Ini hanya sebatas kemampuan saya mengenai gamelan. Saya harapkan untuk semua masyarakat terutama pemuda di Indonesia, khususnya di Jawa ini. Ayo kita lestarikan kesenian budaya Gamelan ini dengan hati yang riang gembira. Seni itu indah, seni itu menyenangkan, seni itu mahal.
Saya Rizqan Rusnamba Prandika siswa SMP Negeri 1 Baturetno.